ig : wirayudanasution

Rabu, 23 Oktober 2019

Cerpen yang berjudul " jangan takut miskin" saya mengambil cerita dari kisah sahabat saya.


Jangan Takut Miskin


            Tik..tik..tik.. suara rintikan gerimis terdengar dari genteng lantai atas gedung O Kampus Biru. “Via, bangun! Hujannya sudah reda. Kamu mau tidur sampai hujannya datang lagi?”ucap Citra sambil menepuk-nepuk bahu Via yang tertidur di kelas terbawa suasana sejuknya hujan. Via segera bergegas keluar dari kelasnya bersama 2 orang temannya Citra dan Airin. Baru saja beberapa langkah mereka keluar dari kelas, terdengar Adzan berkumandang, “Astaga! Ternyata sudah maghrib”, sontak Via terkejut. “Kamu tidak shalat, Vi?” tanya Airin. Berhubung Via berbeda keyakinan dengan kedua temannya tersebut, maka Ia segera pamit untuk melaksanakan Shalat Maghrib di Musholla yang berada di kampusnya. “Kalian duluan saja ya. Hati-hati dijalan. Bye!” kata Via sembari melambaikan tangannya kepada kedua temannya itu. 
            Hari sudah gelap, Via berjalan menuju parkiran kendaraan motor. Ia bersiap untuk segera pulang ke kostnya. Di perjalanan, “Dingin-dingin gini, mie ayam enak juga.” ucap Via dalam hati. Lantas Ia pun menuruti kemauan hatinya tersebut. Sampailah di Mie Ayam Pak De, warung bakso & mie ayam yang dikenal memiliki rasa yang enak danharga yang cukup tinggi di daerah tersebut. Via memarkirkan motornya, lalu Ia dapati seorang anak kecil laki-laki dengan muka melas berada di sebelah motor yg terparkir di sebelah motor miliknya. Anak tersebut berdiri dengan keadaan basah kuyup, sepertinya anak tersebut baru saja sengaja bermain hujan. Anak kecil tersebut melihat kearah Via lalu tersenyum. Via membalas senyuman anak kecil tersebut.  Sontak kejadian itu membuat Via teringat akan adik laki-lakinya dan semakin merindukannya.
            Sambil berjalan kedalam warung, Via memeriksa dompetnya, memastikan bahwa apa yang Ia pesan nanti, sesuai dengan uang yang Ia bawa. Ternyata, yang tersisa di dompet Via hanya pas-pasan menu makan dan minum. Ia pun segera duduk dimeja paling depan, kebetulan hanya meja itu yg tersisa, meja lainnya sudah terisi oleh pembeli lainnya. Dari meja tersebut masih bisa terlihat anak kecil yang berada di parkiran tadi. Menu pesanan Via datang, tak sengaja Via melihat kearah anak tersebut dan ternyata anak itu juga sedang melihat Via. “Aduh, segan mau makan kalau dilihatin adik itu terus.” ucap Via dalam hati. Perasaan iba semakin dirasakan Via terhadap anak kecil tersebut yang masih saja melihat kearahnya. Via berniat membelikan anak kecil tersebut makanan, namun apa daya uang yang Ia bawa pun hanya pas-pasan.
            Sesekali Ia melirik kearah anak kecil tersebut dan lagi-lagi anak itu masih saja melihat kearahnya. Ia semakin teringat dengan adiknya. Sambil berpikir tentang anak itu, Via meneguk minuman dingin yang baru saja diberikan oleh pelayan warung tersebut. Ia pun teringat oleh perkataan orangtuanya, “Kalau kita orang berkecukupan ataupun kurang mampu, lalu kita melihat ada orang yang lebih kurang mampu dari kita, baiknya kita tolong semampu dan sebisa mungkin. Jadilah orang baik yang tulus menolong orang lain tanpa imbalan apapun. Jangan takut miskin.”

                Perkataan orangtuanya tersebut selalu menjadi motivasi dia untuk selalu membantu orang disekitarnya. “Dik, sini bentar boleh ga?” tanya via kepada anak kecil tersebut. Anak itu datang sambil tersenyum dan bertanya, “Ada apa kak?”. “Adik kok basah-basahan gini, siap main hujan ya? Udah makan belum?” tanya Via sambil merasa sedih. Lalu, anak kecil tersebut menjawab, “Hehe iya, Kak. Tadi aku baru selesai main hujan. Aku belum makan, Kak. Ohya, tadi aku lihatin kakak kenapa kakak lihatin aku juga?”. Via tersenyum dan berkata “Gapapa,dik. Kakak cuma teringat adik kakak yang dirumah. Kakak ini perantauan, bukan asli orang sini. Jadi, kalau kakak lihat anak-anak yang sebaya sama adik kakak, pasti kakak langsung rindu. Eh, adik belum makan kan? Ini makanan kakak buat adik aja, dimakan ya. Tapi maafya dik, minumnya udah kakak minum duluan soalnya tadi haus. Adik minum air putih hangat aja gapapa ya? Biar enak juga badannya selesai main hujan.” Sontak anak kecil tersebut bereaksi riang dan berterima kasih kepada Via dan segera menyantap makanannya.
            Hujan turun lagi. Setengah mie telah masuk kedalam perut anak kecil itu. Via terus saja menatap lucu anak itu yang sangat lahap memakan makanan tersebut. “Eh, tapi kakak kok cuma minum aja kok gak makan?” tanya anak tersebut tiba-tiba. “Iya kakak nanti aja makannya, udah gausah dipikirkan. Makan gak boleh sambil ngomong ya, dik.”jawab Via sambil tertawa kecil. Anak itu pun tertawa kecil dan melanjutkan suapan demi suapan kedalam mulutnya. “Enak kali!” kata anak tersebut lalu meneguk habis air hangatnya. “Jago ya makannya.” ucap Via sembari memuji anak tersebut agar merasa terhibur.  Sembari menunggu hujan reda, Via mengajak anak tersebut berbincang-bincang.
            Tak lama, akhirnya hujan reda, Via dan anak kecil tersebut menyudahi obrolan mereka. Via melakukan pembayaran ke kasir, setelah itu berjalan menuju parkiran. “Kak, udah aku lap. Biar celana kakak gak basah.” Kata anak itu sambil membuang tissue yang ia gunakan untuk mengelap jok motor Via yang basah terkena hujan. Via tersenyum dan berkata, “Sebenarnya gapapa kok kakak bisa mengelapnya sendiri.” Anak tersebut membalas ucapan Via, “Maaf ya,kak, cuma ini yang bisa aku buat untuk rasa terimakasih.” Sontak Via pun kagum terhadap kebaikan dan kepolosan anak kecil tersebut. Via berterima kasih kepada anak kecil itu dan pamit untuk balik ke kostnya. Anak tersebut melambaikan tangannya seraya tersenyum kepada Via. Via pun pulang dengan perasaan bahagia dan merasakan kepuasan batin telah dapat membantu orang lain semampunya. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar