Jangan Takut Miskin
Tik..tik..tik.. suara rintikan
gerimis terdengar dari genteng lantai atas gedung O Kampus Biru. “Via, bangun!
Hujannya sudah reda. Kamu mau tidur sampai hujannya datang lagi?”ucap Citra
sambil menepuk-nepuk bahu Via yang tertidur di kelas terbawa suasana sejuknya
hujan. Via segera bergegas keluar dari kelasnya bersama 2 orang temannya Citra
dan Airin. Baru saja beberapa langkah mereka keluar dari kelas, terdengar Adzan
berkumandang, “Astaga! Ternyata sudah maghrib”, sontak Via terkejut. “Kamu
tidak shalat, Vi?” tanya Airin. Berhubung Via berbeda keyakinan dengan kedua
temannya tersebut, maka Ia segera pamit untuk melaksanakan Shalat Maghrib di
Musholla yang berada di kampusnya. “Kalian duluan saja ya. Hati-hati dijalan. Bye!” kata Via sembari melambaikan
tangannya kepada kedua temannya itu.
Hari sudah gelap, Via berjalan
menuju parkiran kendaraan motor. Ia bersiap untuk segera pulang ke kostnya. Di
perjalanan, “Dingin-dingin gini, mie ayam enak juga.” ucap Via dalam hati.
Lantas Ia pun menuruti kemauan hatinya tersebut. Sampailah di Mie Ayam Pak De,
warung bakso & mie ayam yang dikenal memiliki rasa yang enak danharga yang
cukup tinggi di daerah tersebut. Via memarkirkan motornya, lalu Ia dapati
seorang anak kecil laki-laki dengan muka melas berada di sebelah motor yg
terparkir di sebelah motor miliknya. Anak tersebut berdiri dengan keadaan basah
kuyup, sepertinya anak tersebut baru saja sengaja bermain hujan. Anak kecil
tersebut melihat kearah Via lalu tersenyum. Via membalas senyuman anak kecil
tersebut. Sontak kejadian itu membuat
Via teringat akan adik laki-lakinya dan semakin merindukannya.
Sambil berjalan kedalam warung, Via
memeriksa dompetnya, memastikan bahwa apa yang Ia pesan nanti, sesuai dengan
uang yang Ia bawa. Ternyata, yang tersisa di dompet Via hanya pas-pasan menu
makan dan minum. Ia pun segera duduk dimeja paling depan, kebetulan hanya meja
itu yg tersisa, meja lainnya sudah terisi oleh pembeli lainnya. Dari meja
tersebut masih bisa terlihat anak kecil yang berada di parkiran tadi. Menu
pesanan Via datang, tak sengaja Via melihat kearah anak tersebut dan ternyata
anak itu juga sedang melihat Via. “Aduh, segan mau makan kalau dilihatin adik
itu terus.” ucap Via dalam hati. Perasaan iba semakin dirasakan Via terhadap
anak kecil tersebut yang masih saja melihat kearahnya. Via berniat membelikan
anak kecil tersebut makanan, namun apa daya uang yang Ia bawa pun hanya
pas-pasan.
Sesekali Ia melirik kearah anak
kecil tersebut dan lagi-lagi anak itu masih saja melihat kearahnya. Ia semakin
teringat dengan adiknya. Sambil berpikir tentang anak itu, Via meneguk minuman
dingin yang baru saja diberikan oleh pelayan warung tersebut. Ia pun teringat
oleh perkataan orangtuanya, “Kalau kita orang berkecukupan ataupun kurang
mampu, lalu kita melihat ada orang yang lebih kurang mampu dari kita, baiknya
kita tolong semampu dan sebisa mungkin. Jadilah orang baik yang tulus menolong
orang lain tanpa imbalan apapun. Jangan takut miskin.”
Perkataan orangtuanya tersebut selalu
menjadi motivasi dia untuk selalu membantu orang disekitarnya. “Dik, sini
bentar boleh ga?” tanya via kepada anak kecil tersebut. Anak itu datang sambil
tersenyum dan bertanya, “Ada apa kak?”. “Adik kok basah-basahan gini, siap main
hujan ya? Udah makan belum?” tanya Via sambil merasa sedih. Lalu, anak kecil
tersebut menjawab, “Hehe iya, Kak. Tadi aku baru selesai main hujan. Aku belum
makan, Kak. Ohya, tadi aku lihatin kakak kenapa kakak lihatin aku juga?”. Via
tersenyum dan berkata “Gapapa,dik. Kakak cuma teringat adik kakak yang dirumah.
Kakak ini perantauan, bukan asli orang sini. Jadi, kalau kakak lihat anak-anak
yang sebaya sama adik kakak, pasti kakak langsung rindu. Eh, adik belum makan
kan? Ini makanan kakak buat adik aja, dimakan ya. Tapi maafya dik, minumnya
udah kakak minum duluan soalnya tadi haus. Adik minum air putih hangat aja
gapapa ya? Biar enak juga badannya selesai main hujan.” Sontak anak kecil
tersebut bereaksi riang dan berterima kasih kepada Via dan segera menyantap
makanannya.
Hujan turun lagi. Setengah mie telah
masuk kedalam perut anak kecil itu. Via terus saja menatap lucu anak itu yang
sangat lahap memakan makanan tersebut. “Eh, tapi kakak kok cuma minum aja kok
gak makan?” tanya anak tersebut tiba-tiba. “Iya kakak nanti aja makannya, udah
gausah dipikirkan. Makan gak boleh sambil ngomong ya, dik.”jawab Via sambil
tertawa kecil. Anak itu pun tertawa kecil dan melanjutkan suapan demi suapan
kedalam mulutnya. “Enak kali!” kata anak tersebut lalu meneguk habis air
hangatnya. “Jago ya makannya.” ucap Via sembari memuji anak tersebut agar
merasa terhibur. Sembari menunggu hujan
reda, Via mengajak anak tersebut berbincang-bincang.
Tak lama, akhirnya hujan reda, Via
dan anak kecil tersebut menyudahi obrolan mereka. Via melakukan pembayaran ke
kasir, setelah itu berjalan menuju parkiran. “Kak, udah aku lap. Biar celana
kakak gak basah.” Kata anak itu sambil membuang tissue yang ia gunakan untuk
mengelap jok motor Via yang basah terkena hujan. Via tersenyum dan berkata,
“Sebenarnya gapapa kok kakak bisa mengelapnya sendiri.” Anak tersebut membalas
ucapan Via, “Maaf ya,kak, cuma ini yang bisa aku buat untuk rasa terimakasih.”
Sontak Via pun kagum terhadap kebaikan dan kepolosan anak kecil tersebut. Via
berterima kasih kepada anak kecil itu dan pamit untuk balik ke kostnya. Anak
tersebut melambaikan tangannya seraya tersenyum kepada Via. Via pun pulang
dengan perasaan bahagia dan merasakan kepuasan batin telah dapat membantu orang
lain semampunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar